Mencegah hubungan seks pranikah remaja usia sekolah

Oleh: Sofiyandi, Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SMAN 22 Bandung

Sepertinya kita telah menutup mata bahwa ternyata pergaulan anak didik kita banyak yang telah melampaui batas. Maraknya pemberitaan kasus kasus pencabulan dan kehamilan pada usia remaja di sekolah baik anak smp maupun sma telah berkali kali membuat kita terhenyak. Sedemikian burukkah pergaulan anak remaja dewasa ini? Mungkinkah kita terlalu permisif terhadap apa yang mereka lakukan baik disekolah maupun di rumah sehingga pada akhirnya guru dan orang tua seringkali kecolongan?  

Salah satu contoh kasus bagaimana sikap permisif kita adalah dalam menyikapi pola berpakaian siswi, kebijakan sekolah untuk mentertibkan pakaian sekolah yang mengumbar aurat adakalanya ditentang orang tua yang mengatakan bahwa itu masih dalam batas toleransi dan tidak melampaui batas norma sosial dan agama. Selebihnya berpendapat bahwa apa salahnya apabila siswa atau siswi sedikit diberi kebebasan untuk memodifikasi pakaian seragam mereka agar tampil lebih modis toh wujudnya masih berupa pakaian seragam sekolah. Tanpa disadari sikap sikap permisif yang ditunjukan orang tua adakala mendorong para siswa  untuk menyiasati peraturan dalam berpakaian.  Berbagai cara siswi-siswi kita lakukan untuk mengelabui petugas piket, dari mulai membuat lipatan ganda pada rok sehingga tampak panjang akan tetapi suatu saat di dalam sekolah dapat dilipat menjadi sangat pendek sampai dengan membawa bekal pakaian seragam ganda; satu yang sesuai dengan ketentuan sekolah dan satunya lagi yang sesuai dengan ketentuan mode yaitu pendek dan ketat.

Masalah tatacara berpakaian hanya salah satu contoh yang mungkin menjadi salah satu penyebab dari sekian banyaknya penyebab maraknya pacaran bebas anak sekolah yang pada akhirnya mungkin akan mendorong mereka kepada tindakan asusila berupa hubungan seks pranikah.

Hal lain adalah mungkin minimnya pengetahuan mereka tentang alat reproduksi. Yang marak mungkin adalah pemicu penggunaan alat reproduksi seperti tayangan bergerak berupa film dan tayangan statis berupa tulisan dan gambar. Sialnya, akses mereka terhadap pemicu ternyata lebih besar daripada pengetahuan mereka akan alat reproduksinya.

Namun benarkah akses terhadap pemicu lebih mudah daripada akses pengetahuan reproduksi? Jawabannya dapat dikatakan iya! Teknologi mempermudah segalanya. Teknologi HP yang mampu merekam dan memutar video serta memberi akses internet mungkin adalah alat yang sedikit banyaknya memberi kontribusi menyebarnya faktor pemicu hubungan seks pra nikah.  Coba kita bayangkan  sebuah HP dengan fasilitas perekam, akses internet, media player dan kapasitas memori besar sepertinya apapun dapat dilakukan.

 Banyaknya situs yang memberikan akses gratis penyimpanan dan pengambilan file secara gratis memberikan peluang bagi siapapun untuk mengupload dan mendownload apapun, termasuk film dan photo porno, web seperti rapidshare contohnya.  Kemudian kalau kita telaah ternyata file fie yang diupload kebanyakan berbentuk 3GP artinya file-file movie yang diupload kebanyakan adalah untuk diputar via Hand phone! File file 3GP itu ternyata tidak memakan waktu lama untuk didownload, apalagi apabila hp yang dipergunakan sudah mengadopsi koneksi HSDPA atau 3 G!

Lalu efektifkah razia hp untuk melihat apakah siswa mengoleksi video atau photo porno? Jawabannya mungkin iya mungkin tidak, semuanya akan tergantung dari fasilitas apa yang dipunyai HP tersebut. Apabila sudah dilengkapi memori eksternal mungkin razia menjadi tidak efektif karena mungkin mereka akan menyimpannya pada media eksternal sehingga pada saat pemeriksaan siswa akan mudah untuk menyembunyikan hanya memori eksternal dan membiarkan HP mereka dirazia.

Dengan sedemikian banyak kendala, lalu adakah jalan lain untuk meredam hal-hal diatas? Ada! Pertama adalah, kerjasama sekolah dan orang tua dalam mengawasi anak. Kedua, Konsistensi dalam penegakan aturan oleh semua pihak baik petugas piket dan guru kelas sehingga siswa tidak mempunyai celah untuk melanggar aturan yang ditetapkan sekolah. Ketiga pemberdayaan mata pelajaran yang terkait dengan nilai nilai moral dan agama untuk sama sama memperkuat moral siswa siswinya. Keempat adalah mengupayakan diberikannya pengetahuan tentang seks dan alat reproduksi kepada siswa secara rutin.