Orang Pintar Harus Juga Jujur

Oleh: Sofiyandi, Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SMAN 22 Bandung

“Hore, akhirnya aku berhasil melengkapi koleksi ultramanku yang terakhir”, seru Adi. Sore itu Adi baru saja pulang dari toko mainan diantar ibunya. Adi merasa bangga karena  ia telah berhasil menabung selama sebulan penuh di bulan Pebruari kemarin. Bayangkan, uang jajannya sebanyak  Rp.5000 rupiah perharinya  telah berhasil ia kumpulkan hanya untuk membeli ultraman tiga seharga Rp 155.000! Hebat bukan?

 

Malamnya, Adi memeluk koleksi  ultaman terakhirnya itu. Ia tersenyum dan kemudian tertidur pulas. Ia berjanji  sepulangnya dari  sekolah besok, ia akan memperlihatkan koleksinya kepada teman sebangkunya, Deri.

 

Namun esok harinya sepulang sekolah, Adi terlihat murung.  Ayah dan ibu kebingungan.

“Kenapa  Di, kamu sakit?’ tanya ibu .

“Ngak bu, Adi  tadi malam mimpi  buruk jadi  ngak bisa tidur” ,jawab Adi. Kening Ayah sedikit berkerut, beliau pikir jawaban Adi tidak jujur. Ayah melihat ada sesuatu yang disembunyikan tapi ayah tidak tahu apa.

Adi bergegas mengganti baju dan makan siang. Setelah itu ia meminta ijin untuk bermain keluar bersama sahabatnya Deri.

 

 “Aku heran  sama Adi. Baru saja kemarin ia membeli koleksi jagoannya tapi hari ini kok sudah murung” kata ayah .

“Ibu juga heran yah. Sepertinya  Adi menyembunyikan sesuatu pada kita. Apa mungkin tadi pagi dia mendapat nilai ulangan jelek sehingga dia takut ketahuan ya yah?”

“Betul juga, bu. Kalau begitu ayo kita periksa tasnya siapa tahu dia menyembunyikan nilai- nilai ulangan yang buruk di dalam tasnya” kata ayah bergegas pergi kekamar Adi

Ibu dan ayah mulai mengeledah tas Adi.  “Nah, ini sepertinya kumpulan ulangan-ulangan Adi, ayo kita periksa ulangan apa saja dan berapa nilainya.”seru ibu bersemangat.

Ayah dan ibu mulai memeriksa lembar demi lembar hasil ulangan Adi. Luar biasa! Nilai ulangan Adi seperti biasa semuanya diatas 9, termasuk ulangan matematika hari ini!

Soal prestasi belajar memang Adi selalu mendapat rangking dikelas. Ayah, ibu dan guru-gurupun bangga atas prestasi belajarnya, terlebih Adi juga seorang yang penurut dan berakhlak baik.

“Gimana nih bu, rupanya kecurigaan kita tidak terbukti. Apa lebih baik ibu coba cari informasi pada Deri?  Deri kan teman sebangkunya dan juga teman sepermainan di sini” kata ayah mengajukan usul

 

“Betul juga kata ayah, biar nanti ibu tanya kalau ia kesini.”

Sore harinya Adi pulang, Ia tetap kelihatan murung dan selalu mencoba menjauhi ibu, sepertinya ada sesuatu yang salah dengan ibu.

 

Ibu kemudian menemui ayah dikamar . “Kenapa yah,  Adi kok  tambah murung? Perasaan ibu berkata sepertinya Adi  takut kalau ketemu ibu. Ada apa ya?” cemas ibu

“Kalau begitu, bagaimana kalau ayah pergi  kerumah  Deri dan menanyakan padanya apa yang terjadi disekolah tadi pagi”, usul ayah pada ibu.

 

Di rumah Deri, ayah mencoba mencari tahu apa yang terjadi pada Adi.

“Jadi apa ya, kira kira yang telah terjadi pada Adi , kok dia jadi begitu murung dan selalu menghindari bapak?” Tanya Ayah setelah menjelaskan keadaan Adi pada Deri.

“Yang Deri tahu, tadi pagi Adi bersemangat untuk memberi tahu Deri kalau Adi telah membeli koleksi ultraman terbaru. Adi bercerita bahwa ia berhasil membelinya dari hasil tabungan bulan Pebruari kemarin. Ia bangga karena selama bulan itu ia tidak jajan sama sekali. Uang jajan  yang ibunya berikan setiap hari sebanyak lima ribu rupiah katanya semuanya ditabung untuk membeli Ultraman Tiga” jelas Deri.

“Oh begitu”kata ayah bangga. Ia tidak menyangka anaknya sanggup menabung selama sebulan penuh tanpa jajan.

“Lalu aku bertanya pada Adi, wah kalau begitu harga Ultramanmu lebih murah dong dari punyaku. Mendengar perkataanku, Adi terus bertanya, memangnya kenapa dan aku jelaskan bahwa jumlah hari dibulan Pebruari tahun ini hanya 28 hari, jadi kalau Adi menabung seribu selama sebulan penuh berarti Adi berhasil menabung Rp. 140.000 dan seingatku Ultraman yang aku beli dulu harganya Rp 155,000.” Jelas Deri pada ayah.

 

Ayah termenung mendengar penjelasan Deri. Ada  sebuah petunjuk yang mungkin membuat Adi murung dan menghindar darinya, yaitu ada selisih antara tabungannya dan harga Ultraman yang dibelinya.

“ Baiklah”, kata ayah .”Terima kasih atas penjelasanmu, Deri”

Ayah bergegas pulang menemui ibu dan menjelaskan apa yang telah Deri terangkan kepada ayah. Ibu terdiam, ia teringat sesuatu. “ Yah sebetulnya ibu ingin  berterus terang pada ayah, sebetulnya 3 hari yang lalu ibu kehilangan uang sebesar Rp. 15.000, uang itu merupakan kembalian dari pasar, kemudian ibu simpan di meja, tapi ibu takut kalau ibu salah ,siapa tahu kalau ibu lupa menaruhnya” kata ibu.

 

Ayah dan ibu terdiam. keduanya mulai berpikir, mungkinkah Adi  yang telah mencuri uang kembalian ibu untuk membeli Ultraman?

Dan tiba-tiba pintu kamar terbuka. “Bolehkan Adi bicara sama ayah dan ibu?” ,pinta Adi kepada ayah dan ibu.

“Baiklah Di, apa yang ingin kamu katakan pada ayah dan ibu?” Tanya ayah sedikit menyelidik.

“Aku tahu tadi ayah pergi ke rumah Deri, dan Adi juga tahu apa yang telah Deri katakan pada ayah”.

“Lalu apa penjelasan Adi tentang itu?”

“ Adi mohon maaf sama ayah dan ibu, Adi telah mengambil uang ibu. Adi kira ibu tak memerlukan uang itu dan Adi kira tidak akan ada orang yang tahu kalau Adi melakukannya. Tapi Adi salah, Adi lupa kalau bulan Pebruari tahun ini hanya 28 hari. Setelah itu perasaan Adi jadi ketakutan, takut ketahuan kalau jumlah tabungan Adi  belum mencukupi untuk membeli Ultraman. Semuanya karena Adi sudah tidak sabar ingin segera mendapat Ultraman. Maafkan Adi ” ,isak Adi sambil merangkul ayah dan ibunya.

“ Baiklah”, kata ayah.” Ayah tahu kamu anak yang pintar, tapi kepintaranmu itu telah dikalahkan oleh ketidakjujuran dan ketidaksabaranmu sendiri. Coba kalau kamu sedikit bersabar menunggu untuk membeli Ultraman kesayanganmu 3 hari kemudian,maka kamu tidak akan diselimuti perasaan bersalah karena mencuri uang ibu”

Adi mengangguk. Ia merasa sangat menyesal atas apa yang telah ia lakukan dan ia berjanji didalam hatinya untuk selalu jujur dan bersabar dalam melakukan hal  apapun. “Orang pintar harus juga  jujur” kata Ayah.